Saat kita mengalami masalah dalam hidup kita, satu-satunya tempat yang layak untuk kita curhati hanyalah Tuhan.. Dia tak pernah mengeluh atau pun mencibir apapun masalah yang kita adukan padaNya. Dialah pendengar yang baik, dan pemberi solusi yang terbaik. Jika kau percaya, curhatlah padaNya.. dan akan kau peroleh ketenangan.. Karena sesungguhnya Dialah yang telah menimpakan masalah dalam hidupmu, hanya Dia pula yang dapat mencabutnya dengan keridhaan jika dirasa kau telah berhasil “naik kelas”…

Sinopsis:

Mungkin sebagian orang takut untuk bercerita pada orang lain, takut apa yang dirahasiakan akan diketahui. Salah satu yang paling bagus, yakni mencurahkan isi hati kepada Tuhan dengan cara menuangkan curahan hatinya hanya untuk Tuhan, di mana kisah para penulis yang ingin menyampaikan isi hatinya pada Tuhan dengan cara mereka sendiri-sendiri. Ada yang mengatakan Tuhan tak adil, Tuhan tak sayang padaku, Tuhan tak cinta pada keluargaku, dan sebagainya. Lucunya ada yang bilang media Curahan Hati untuk Tuhan tepat untuk meluangkan seluruh curahan hati penulis, tak seperti mengirim paket pada jasa-jasa terkenal di Indonesia.

Untuk itu, marilah kita petik pelajaran dari Antologi Curahan Hati untuk Tuhan, kisah-kisah inspiratif penulis. Menunjukkan bahwa mereka semua cinta pada Tuhan. Walaupun, keluh kesah yang dihadapi penulis, saat bulir air mata jatuh di atas sajadah, di saat itulah penulis mencurahkannya pada Tuhan, Pemilik Isi Alam ini di bumi.

Curahan Hati untuk Tuhan… Rinduku pada Malaikat Kecilku di panti asuhan
Curahan Hati untuk Tuhan… Tercurahkan dalam hati untuk Tuhan
Curahan Hati untuk Tuhan… Maaf Tuhan, aku lancang berbicara cinta
Curahan Hati untuk Tuhan… Cangkir Cappucino untuk Tuhan
Curahan Hati untuk Tuhan… Mereguk doa di sajadah kasih

Satu curhatku yang tertulis dalam buku ini, “Allah.. Biarkan Aku MenyapaMu!”

Allah.. sepertinya sudah lama sekali aku tak menyapaMu. Kali ini biarkan kuletakkan egoku, kutanggalkan rasa sombongku dan kutengadahkan kedua tangan ini untuk memohon padaMu. Memohon ampun atas kesombongan diri yang membuat diri ini khilaf sehingga mati hati dan jiwa.

Akulah hamba yang tak tahu terima kasih itu ya Allah. Akulah hama kerdil namun tak pernah mau mengakui kekerdilanku. Aku yang selalu menganggap diri ini paling sempurna dengan segala kelebihan yang kupunya, tapi selalu lalai yang menggenggam hidup dan matiku ini siapa.