Palestina

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:0cm;
mso-para-margin-left:36.0pt;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
line-height:150%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

“Bagaimana Ay, kamu sudah siap?” tanya Abah pada Ayuna.

Ayuna diam. Bibirnya kelu. Ada sesak yang kian terasa.

“Mintalah petunjukNya Ay! Bukankah kamu mencintai Fatih karena cintamu kepadaNya?” Abah mengelus kepala Ayuna yang berjilbab. Beliau pun meninggalkan Ayuna dalam kebimbangan.

Sebentar lagi pernikahannya dengan Fatih akan terlaksana. Namun dua bulan setelahnya Fatih harus ke Palestina terkait dengan tugasnya sebagai seorang wartawan.

“Yaa Rabb…, jika memang semua ini sudah Kau gariskan untuk kami, maka izinkan kami menggenggam ilmu ikhlasMu” ucap Ayuna lirih seiring dengan jatuhnya bulir bening dari kedua matanya.

****

Dua bulan setelah pernikahan

 

“Maaf, dik.. ada sejumput luka yang kugoreskan di hatimu. Tapi kuyakin kita akan mendapatkan balasan dariNya atas semua pengorbanan ini” Fatih menatap dalam mata Ayuna.

Kedua mata indah itu telah basah. Mulutnya bungkam menahan segala resah yang bersarang di dadanya. Ayuna bangga bersuamikan seorang mujahid, tapi sisi lain hatinya tak mampu menahan pedih yang kian mengiris.

“Jangan menangis, dik! Jika Ia berkehendak, pasti kita akan dipertemukan kembali”

Kali ini direngkuhnya tubuh Ayuna yang semakin terisak. Ayuna ingat mimpi mereka untuk menciptakan jundi-jundi kecil yang kelak membela Dienul Islam. Seketika hatinya meluruh dalam keikhlasan.

 

****

Di Palestina

 

Hujan peluru masih saja berhamburan meretas nyawa-nyawa yang tak berdosa. Desingannya menjadi irama kematian yang meresahkan. Perdamaian, entah kapan terwujudkan.

 

Di sudut kota, seorang lelaki berkamera tengah meregang nyawa. Peluru menghujam ke tubuhnya. Entah berapa banyak dia kehilangan darah. Saat bertatap dengan Izrail, lirih dia berucap “Laa illaha ilallah..” Seiring dengan tubuhnya yang kian terasa ringan. Di surga sudah menanti seorang bidadari dengan wajah yang tak asing dalam penglihatannya. Ayuna.

 

****

“Ay merindukanmu, Kak.. sehatkah kamu di sana?” dipandanginya foto Fatih

“Kembalilah Kak.. jundi kecil kita ingin bertemu denganmu” kali ini dielusnya perut yang belum terlihat membuncit itu. Seketika Ayuna mencium bau wangi seperti wangi seorang mujahid yang mati syahid.